Suka dan Duka Ngekos di Kota Orang

Hidup dengan cara nyewa kamar (ngekos, indekos, kost-kostan, atau koskosan --terserah mau nyebutnya apa) menjadi hal yang selalu diinginkan oleh sebagian banyak orang, khususnya mahasiswa.

Kalau ditanya alasannya kenapa, alasannya beragam seperti: penasaran apa rasanya, mau coba hidup mandiri, tidak mau menyusahkan keluarganya, sebatas ingin dikasih jajan per bulannya, bisa hidup dan bebas pulang jam berapa saja dan kapan saja, atau menghindari keluarga sendiri yang toxic (?) ๐Ÿ˜…

Jadi, terserah ya mau alasannya seperti apa.

Suka dan Duka Ngekos di Kota Orang
https://www.lamudi.co.id/

Karena pernah hidup ngekos, meski tidak begitu lama, di sini saya akan menceritakan sedikit suka dan duka yang saya alami ketika ngekos dulu.

Yang perlu dicatat adalah di momen ngekos ini, saya sudah bekerja dan berpenghasilan. Alasan ngekos juga karena tuntutan pekerjaan (baca: penempatan). Jadi, tidak ada masalah sama sekali.

Rindu Orang Tua


Kalau dasarnya memang cinta dan sayang sama orang tua, pasti kalian rindu dengan mereka.

Baru sehari ngekos udah nelpon aje. Yeeee.

Beda halnya dengan orang yang punya masalah pribadi dengan keluarganya. Justru dengan cara ngekos, hidupnya menjadi lebih bahagia ๐Ÿ˜Œ Panjang umur generasi sandwich yang bermasalah dengan keluarganya! (Mungkin?).

Jangan takut, ya! Persoalan kangen dengan orang tua di atas cuma terjadi dalam beberapa bulan, karena ada masanya kalian mulai menikmati hidup ngekos.

Di momen-momen ini, diri kalian akan dilatih secara alami untuk menahan dan menguasai diri agar tidak "tergantung" dengan orang tua.

Mental Terlatih dengan Baik


Terdengar klise tapi betul adanya. Kalau biasanya apa-apa dibantu oleh orang tua, ketika ngekos nanti, peran mereka mulai memudar. Ketergantungan ini akan menghilang secara perlahan. Termasuk dalam mengambil keputusan.

Contohnya? Sederhana. Kalau biasanya kalian mengandalkan orang rumah untuk mengerjakan ini itu, maka, ketika ngekos, kalian harus menyelesaikannya sendiri. Mutlak, ya.

Mulai Pintar dalam Mengatur Keuangan


Harus diakui, bagi orang yang baru pertama kali ngekos akan merasakan betapa susah dan sulitnya mengatur keuangan. Uang sejuta yang seharusnya cukup dalam waktu 2 minggu, bisa habis dalam 5 hari. Stres!

Karena dasarnya berasal dari keluarga sederhana -- di mana uang yang dikirimkan terbatas, pasti kalian sadar dan mulai menggunakan otak kalian untuk bisa mengatur keuangan.

Beda ceritanya kalau kalian terlahir dari keluarga kaya raya. Minta duit sekarang? Sekarang juga dikirim.

Bermasalah dengan Teman Koskosan


Salah satu hal yang tidak mungkin kita hindari adalah kemungkinan konflik atau bentrok dengan teman kos. Jujur, bagian ini yang paling tidak enak karena situasinya masih di dalam lingkungan. Apalagi kalau setiap harinya saling berpapasan di lorong koskosan.

Sebenarnya, konflik dengan teman kos tergantung bagaimana sebabnya. Bisa saja berawal dari pinjam sendal tapi lupa dibalikin ke tempatnya, suka pinjam motor orang, dan lain-lain.

Bagian ini saya serahkan ke diri kalian masing-masing. Mungkin ada beberapa saran dari saya, di antaranya:

  • Simpan sendal di dalam kamar;
  • Jangan beri pinjam motor dengan alasan mau dipakai sebentar lagi;
  • Kalau diajak dan mager, tolak secara halus dengan alasan ada pekerjaan yang gak mungkin ditunda;
  • Dan alasan masuk akal lainnya.

Masalah yang paling sering terjadi di koskosan adalah sendal yang sering dipakai sama orang tanpa izin atau memang hilang betulan. Ada juga kasus di mana makanan di dalam kulkas bisa berkurang dengan sendirinya ๐Ÿ˜…

Bapak dan Ibu Kos yang Cerewet


Alhamdulillah kalau saya sendiri belum pernah merasakan bapak dan ibu kos yang cerewet. Cuma, ada cumanya, nih! Kebanyakan ngomong.

Sebenarnya nggak salah juga, sih. Namanya juga orang tua pasti butuh teman ngobrol, 'kan? Apalagi cuma tinggal berdua. Tapi yang namanya manusia, tentu kita merasakan bosan dan jenuh, apalagi topiknya itu-itu terus.

Kadangkala saya buru-buru masuk kamar kalau baru pulang. Kalau dipanggil, saya pura-pura gak dengar. Maap, pak! ๐Ÿ™

Ada kalanya saya dipanggil untuk betulin pipa air yang macet. Padahal saya gak punya keahlian di bidang tukang. Tapi berkat baca bismillah, semuanya teratasi dengan baik ๐Ÿ˜ Alhamdulillah.

Susahnya Mengadu ketika Sakit


Beberapa manfaat dari ngekos (karena merantau misalnya) adalah menjaga diri dan mempersiapkan segalanya.

Contohnya apa? Contohnya kalau biasanya sering sakit kepala, maka obat sakit kepala harus selalu ada di dalam tas atau kotak P3K. Ini contoh kasus di mana kalian bisa menjaga diri lalu mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan (sebelum itu terjadi).

Kalau bukan kita sendiri, mau mengadu ke siapa lagi? Orang rumah? Orang rumah 'kan di kampung. Mau tidak mau kita harus mengandalkan diri sendiri. Jangan merepotkan tetangga kos-kosan kecuali sudah sekarat ๐Ÿ˜…

Mungkin itu saja yang bisa saya bagikan soal suka dan duka ngekos di kota orang. Barangkali mau menambahkan, silakan tambahkan di kolom komentar yang telah disediakan.
Arief Ghozaly
Arief Ghozaly Blogger sejak 2014 - Suka Menulis, Membaca, SEO, Berbagi Cerita, Pengalaman, Eksplorasi, dan Kopi.

Posting Komentar untuk "Suka dan Duka Ngekos di Kota Orang"